recent posts

banner image

lahir baru (refleksi akhir tahun mahasiswa tertinggal)




Dan kini lelaki itu baru benar-benar sadar “ rasa takut menunjukan bahwa kamu manusia biasa, jika menunggu sampai rasa takut hilang, baru mengadakan perubahan, kamu akan menunggu selamanya”




Lelaki itu duduk di depan ruang dosennya, setelah sejenak melihat nilai-nilai ujiannya yang memang sudah sejak awal ia tidak terlalu tinggi berharap, dengan buku kurikulum berwarna biru di tangan, ia melihat berapa jenjang semester lagi ia bisa lulus. Seharusnya bagi mahasiswa yang memasuki semester.8 sudah tidak perlu lagi melihat buku itu, karena normalnya yang harus dihadapi adalah tugas akhir, bukan lagi teori-teori dan praktek semester.3. bagaimana dia baru bisa mulai menyusun skripsi nanti di semester.9



Ia melhat ke sekeliling, dan tidak sekalipun menemukan teman-teman nongkrongnya, juga tidak ada teman seangkatannya, yang ada hanya mahasiswa-mahasiswa adik tingkat yang sedang begitu antusias berdesak-desakan mencari nilai yang berpasangan dengan NIM milik mereka.



Ia teringat semua teman-temannya sedang mempersiapkan KKN.....



Dan kini ia baru sadar, ia tertinggal......



Pernah kamu berpikir ingin pindah jurusan?? Lelaki itu pernah, tepat saat akan memasuki semester.3 sekitar dua tahun lalu, saat semangat mahasiswa masih menyala-nyala, ya setelah dua semester ia menjalani masa awal kuliah, ia mulai mempertanyakan kenapa ia harus mempelajari ilmu di jurusan yang ia ambil. Ia tidak mencintai apa yang seharusnya ia dalami.



Namun, bukan berarti ia tidak mampu mengikuti apa yang dosennya berikan, mungkin lebih tepatnya ia mampu mengerjakan ujian-ujian yang dosennya berikan, di kelas ia tidak pernah memperhatikan materi yang disampaikan, ia sama sekali tidak tertarik dengan apa itu grafik dan persamaan, ia tidak peduli kenapa dalam neraca harus selalu seimbang, ia tidak ambil pusing kenapa gerakan makro dan mikro bisa mempengaruhi kemakmuran suatu bangsa, ia masa bodoh dengan semua itu, ia kehilangan semangat berpikir analitis-kritis yang dibangun sejak SMA. tetapi, di dua semester awal indeks prestasinya menunjukan hasil yang benar-benar berlawanan dengan semangat belajarnya, di semester awal indeks prestasinya hampir mencapai 3,5 dan di semester dua lebih tinggi dari 3.



‘saat kamu ragu-ragu, jangan pernah mengambil keputusan” itulah yang dulu pater rektor nya pernah katakan. Begitupun dirinya, ia selalu ragu membuat langkah besar dalam hidupnya, ia tidak punya alasan kuat untuk berpindah jurusan, ia tidak pernah berani untuk memperjuangkan ilmu yang ia cintai. Pernah ia mengutarakan niat itu kepada ibunya, kepada teman-temannya, kepada sahabat-sahabatnya dan semua bertanya-tanya kenapa?? Dengan indeks prestasi yang cukup tinggi tidak seharusnya berkata tidak mencintai ilmu yang ia ambil, tidak ada alasan yang cukup kuat untuk meyakinkan mereka dan meyakinan dirinya sendiri kalau ia tidak berada di tempat yang benar.



Dan kini lelaki itu baru benar-benar sadar “ rasa takut menunjukan bahwa kamu manusia biasa, jika menunggu sampai rasa takut hilang, baru mengadakan perubahan, kamu akan menunggu selamanya”

Pikirannya kembali terbang jauh ke belakang, masa-masa SMA, saat ia benar-benar mencintai apa yang namanya belajar, saat ia benar-benar memaknai apa itu non scholae sed vitae discimus , ia mencoba meraih lagi serpih-serpih ingatan yang terkubur dalam. Bagaimana dulu ia hancur lebur dalam matematika, terseok-seok dalam akuntansi, terjungkal dalam ekonometri dan luluh lantak dalam statistika. Tapi berbeda dengan beberapa mata pelajaran lainnya, ia bersinar terang dalam pelajaran sejarah, menonjol dalam sosiologi, tertarik dengan antropologi, tergila-gila dengan bahasa latin dan inggris, mencintai cerita dan puisi-puisi dalam bahasa indonesia, haus akan pelajaran menggambar di KTK, jatuh hati pada geografi, dan selalu bertanya-tanya tentang semiotika dan psikoanalisis waktu ia selesai membaca buku-buku roland barthes dan sigmund freud di perpustakaan lama sekolahnya.

“aku tidak pernah menyangka kamu anak ekonomi, aku kira kamu anak sastra inggris” kata temannya, pernyataan yang cukup menamparnya waktu itu, dan ia baru sadar setelah begitu banyak teman-teman yang salah menerka jurusannya apa, beberapa dari mereka mengira ia anak FISIP , teman-teman di kampus mengira dia anak sastra inggris, banyak yang mengira dia anak ISI, dan segala macam terkaan lainnya.

Lelaki itu baru sadar belakangan ini,terlalu banyak ia membaca buku tapi tak pernah sekalipun menyentuh apa itu ekonomi, ekonomi baginya hanya untuk dihafal sebelum ujian... and it’s enough.. ia mampu meresensi suatu buku, ia cukup banyak membaca tentang psikologi, belajar komposisi dan segala elemen dalam seni rupa 2 dimensi, ia banyak menggali ilmu tentang sejarah dan filsafat, ia sedang jatuh cinta pada semiotika tapi tak pernah sekalipun damai berdampingan dengan statistika, matematika bisnis, penganggaran, operasi, maupun keuangan serta biaya.

Kuliah tidak pernah lagi menjadi hal-hal yang menarik buatnya, mulai saat dia memutuskan untuk tetap di jalan yang ada, meneruskan apa yang sudah dia ambil, hatinya mantap untuk tinggal , walaupun semangatnya jauh tertinggal. Dan mulai saat itu, selalu saja ada hal yang lebih menarik daripada kuliah. Yang bisa mengajak tangannya untuk tidak menandatangani daftar presensi di dalam kelas, yang bisa memberikan terlalu banyak pengalaman baru, walaupun tidak selalu menyenangkan, meskipun selalu ada perasaan bersalah.

Dia terlalu yakin akan dirinya, dia terlalu sadar diri akan kemampuannya, sehingga dia menilai diri lebih dari apa yang sebenarnya dia mampu . Kegilaan pertama yang dia lakukan di awal tahun keduanya kuliah adalah mengambil program D2 bahasa inggris di kampusnya yang menambah beban studi sampai 16 sks, sedangkan di jurusannya dia mengambil 22 sks, sehingga dari pagi sampai jam enam sore dia habiskan di dalam kelas, ditambah dengan segala macam keorganisasian di unit kegiatan mahasiswa serta kepanitian-kepanitian yang dia ikuti. Yang menghisap waktunya sampai larut malam sepanjang minggu.

Di waktu itulah ia mulai menancapkan eksistensinya dalam gerakan kemahasiswan, tapi di saat yang bersamaan itu runtuhlah tiang-tiang akademis yang dulu ia awali dengan baik, ditandai dengan indeks prestasi yang terjun bebas hampir mendekati 1,5

Dan di saat ini,di depan ruang dosennya , yang mulai sepi, ia sadar “ saat manusia mulai rakus, saat manusia mulai ingin memiliki semuanya, disitulah awal dia akan kehilangan apa yang sebenarnya paling berarti buat dirinya”

Mudah untuk memulai sesuatu yang baru, tapi sulit untuk membangun kembali dari awal apa yang sudah hancur lebur, begitupun lelaki itu, lelaki itu selalu berpikir “penyesalan tidak akan merubah apapun”, untuk beberapa waktu dia benar, tapi untuk kasus ini dia salah, karena dia tidak pernah menyesal maka dia tidak pernah berpikir untuk memperbaiki apa yang salah, dia terus mengulangi lagi apa yang sudah dilakukan, karena ia tidak mau melihat masa lalu, masa lalu yang menyakitkan harus dikubur dalam, dan selalu melihat ke depan, tapi menjadi tidak benar saat melihat ke depan tapi kaki selalu berada di masa lalu.

Dan dari waktu kehancurannya sampai saat ini, di depan ruang dosennya, dia tidak pernah melangkahkan kakinya keluar dari lingkaran kesalahan tersebut. Saat dimana kini ia meratapi ketertinggalannya, dan mau tidak mau ia harus duduk berdampingan dengan penyesalan.

---------

Pagi itu dia melangkahkan kakinya dengan ringan menuju kampus yang sudah 3,5 tahun menjadi rumah keduanya, dengan senyum terkembang dan langkah berirama,

sudah beberapa kali orang-orang yang dulu selalu menyapanya tidak lagi mengenalinya, satpam dan supir kampus yang

biasa bertegur sapapun seperti menganggap dia tidak ada, dosen-dosen yang pernah mengajarpun seperti mendapat amnesia...


Hari ini....

Dia datang kembali ke kampus untuk melihat mata kuliah yang ditawarkan


Lelaki itu, yang biasa menggunakan kaos hitam ‘gratisan’ yang belum disetrika dan sedikit berbau, kini menggunakan kemeja abu-abu yang wangi dan rapi, setelah kemeja itu dan belasan kemeja dan kaos berkerah lainnya terkubur dalam kardus sudut kamar, mungkin mereka menangis karena dibeli baru tanpa pernah dipakai.

Setelah selama ini dia selalu menggunakan jeans belel dan bolong dalam kesehariannya kuliah, kali ini akhirnya dia menggunakan celena jeans yang lebih “behave”.lebih manusiawi, lebih beradab.

Dan kini jidatnya bisa merasakan angin yang ramah berhembus, rambut gondrong kriting dekil yang selama ini telah menjadi trade mark dirinya, hanya tinggal sejarah. Ia merasa seperti bayi lagi, tak berambut.

Hari ini dia telah berjanji pada dirinya, hari ini dia lahir baru

Hari ini dia lahir baru.. setelah dia bisa duduk berdampingan dengan penyesalan

Hari ini dia lahir baru.. setelah penyesalan mendorongnya keluar, menendangnya jatuh tersungkur, memaksanya untuk keluar melangkahkan kaki dari jaring-jaring kesalahan

Hari ini dia lahir baru.. dia tidak hanya melihat ke depan, tapi ia akan berlari lebih cepat untuk mengejar tujuannya...

Hari ini dia lahir baru.. hari ini dia sadar yang salah bukan langkah yang sudah ia ambil, tapi pola pikirnya

Hari ini keputusan hidup dan semangatnya akan berlari bersama....

Ayoo kuliah.......
lahir baru (refleksi akhir tahun mahasiswa tertinggal) lahir baru (refleksi akhir tahun mahasiswa tertinggal) Reviewed by agustinriosteris on 00:04 Rating: 5

7 comments:

  1. kebanyakan naik gunung. gunung beneran dan "gunung-gunugan"

    ReplyDelete
  2. Pengalaman sendiri ya mas..mudah-mudahan bukan ya..soalnya sayang banget kalo melakukan sesuatu yang bukan menjadi minat kita..tau-tau kita sudah tertinggal oleh waktu dengan segala kesia-siaan..

    ReplyDelete
  3. nice post...

    however i see some kind of projection in the story...=D

    well,
    find your passion and stick to it.
    one will never be happy enough when he's not following his own passion.

    =D

    keep writing.

    ReplyDelete
  4. hahahaa.. kayaknya ini termasuk tahapan yang wajar dalam kehidupan mahasiswa deh.... ngebaca ini gw bener2 jadi inget masa2 gw pernah ngerasain gini juga beberapa tahun yang lalu. Tapi gw survive kog.. semua orang survive... ayooo semangaaaattt...!

    ReplyDelete
  5. hmmm... gw pernah ngerasain gini juga waktu kuliah kedokteran.
    btw kuliah kedokteran bener2 sucks & boring!
    sampe akhirnya pegang pasien beneran langsung deh cinta mati sama profesi... haha..

    survivors who made human stil live til today ;)

    ReplyDelete

Powered by Blogger.