Posts

Showing posts with the label #365HariMenulis

Danau Maninjau – Saujana Air Mengharu Biru

Image
Danau vulkanik yang menghadirkan panorama menakjubkan, rentetan rumah gadang dan beragam aktifitas alam bebas. Jangan terheran kalau sisi puitis dalam hati tiba-tiba hidup kembali. Berada 36 kilometer dari Bukittinggi, Danau Maninjau sudah menantang kesungguhan setiap orang yang ingin mengencaninya. Selepas kota Bukittinggi, motor yang saya kendarai harus berkali-kali memacu tenaganya keras-keras saat melintasi jalan penuh tikungan dan curam menanjak. Namun, ketegangan itu terbayar sejak di awal perjalanan. Jalanan mulus membawa kami melintasi ngarai-ngarai, sawah menguning, deretan rumah-rumah Gadang, hutan menghijau dan udara yang sejuk. Selepas jalan yang tak lelah memberi tanjakan, keahlian mengemudi kembali ditantang dengan jalan menurun yang dihiasi 44 kelokan tajam dan curam, biasa disebut Kelok 44. Di satu sisi sangat menyenangkan bisa merasakan sensasi ngebut dengan harus memiringkan motor. Namun, rasa ngeri segera menghantui saat membayangkan laju motor tak t...

Bukittinggi - Nasi Kapau Uni Lis, Menu Spesifik Gulai Tanjung

Image
Nasi Kapau dari Nagari Kapau siap memuaskan hasrat kuliner kita, bumbunya lebih mantap dari Nasi Padang yang sudah mantap. Gulai Tunjang adalah menu yang wajib dicoba. Lalu Nikmat apalagi yang kau cari di Bukittinggi? “Kau tidak resmi ke Bukittinggi kalau tidak coba Nasi Kapau” ucapan seorang travel blogger yang berasal dari Sumbar itu mengiang-ngiang ketika saya menyusuri jalan di samping Kebun Binatang. Tujuan saya adalah pasar atas, setelah mendapat rekomendasi dari pemilik hotel tempat kami tinggal, maka saya putuskan untuk mencicipi makanan legendaris itu di Pasar Atas, di Warung Uni Lis. Selewat kebun binatang, tepat di depan masjid agung, tibalah saya di tempat tujuan. Mendekati pasar, sudah terpampang papan nama beberapa Warung Nasi Kapau, milik Uni Lis bertuliskan “Menu Spesifik Gulai Tunjang”. Perut yang keroncongan langsung tambah berbunyi nyaring akibat membayangkan rasanya. Baskom-baskom penuh lauk berjajar teratur di meja bertingkat, warnanya menggoda...

Pantai Klayar - "Monumen Megalitikum" Pahatan Alam

Image
Berada di selatan Kota Pacitan, Pantai Klayar dengan bukit-bukit yang dipahat angin dan garam serta pasirnya yang memilki dua warna menjadi pesona yang memanggil pejalan dari penjuru Indonesia. Ombaknya juga tersohor di telinga peselancar dunia. Walaupun hanya berada 45 kilometer dari kota Pacitan, bukan hal yang mudah untuk mencapai pantai ini. Setelah berkendara kurang lebih tiga setengah jam dari Yogyakarta, kami akhirnya menemui penunjuk arah menuju pantai Pacitan. Dibuka dengan jalan aspal sempit, kendaraan bongsor kami sudah memakan lebih dari separuh jalan. Saya, Blesta dan Orsi, teman dari Hungaria, berkali-kali menahan nafas saat berpapasan dengan mobil lain. Semakin ke dalam, kondisi jalan semakin parah. Berkali-kali kami menghadapi jalan berbatu dengan tanjakan curam dan berkelok. Seringkali saya harus menjejak rem dalam-dalam serta memadukannya dengan gigi satu. Lebar jalan yang tidak seberapa dipersempit dengan aat-alat berat yang didatangkan sekedar untuk menam...

Bukittinggi – Martabak Kaka, Kesejatian Cita Rasa Empat Generasi

Image
Dari seporsi martabak terkandung cerita tentang pertemuan budaya, keramahan penduduk, juga kesetiaan menjaga cita rasa dari generasi ke generasi. Langit beranjak gelap, saat saya memasuki lagi Kota Bukittinggi. Dari Jam Gadang, Langkah menuju jalan menurun yang diapit oleh jajaran penginapan. Pilihan menyurusi  jalan yang disebut Kampung China ini memang bukan tanpa tujuan. Ditemani perut yang keroncongan, saya mencari Martabak Kaka, martabak telur paling legendaris di Bukittinggi. Tak lama berjalan, setelah melewati rumah makan padang yang ramai, dan gardu listrik yang dijaga anjing Labrador, saya menemui jalan bercabang tiga. Tak disangka, pada pertigaan inilah Martabak Kaka berada. Warung sederhana yang dari luar tampak biasa saja, seperti kalah bersinar dibanding gerobak sate padang dan martabak kubang yang berbaris di halaman depannya. Namun, ketika saya benar di ambang pintu, diri serasa ditarik pusaran waktu. Dilengkapi dengan meja dan kursi kayu berwarna cokla...

Lain ladang, lain belalang. Lain negara, lain cara makannya.

Image
Makan bukan hanya sekedar mengenyangkan perut, karena makan juga bisa menjadi cara kita memandang hidup. Kenapa? Di dalam makanan bukan hanya terkandung gizi yang dibutuhkan tubuh, tapi terkandung nilai budaya, geografis dan kondisi sosial di setiap daerah asal makanan tersebut. sumber foto: weblogs.baltimoresun.com Saya belum pernah ke luar negeri, tapi pertemuan dengan banyak pejalan dari negara lain membuat saya belajar tentang kebudayaan mereka, salah satu yang membuat saya tertarik adalah makna cara mereka menyantap makanannya. Terima kasih kepada social media pejalan seperti Couchsurfing dan Hospitalityclub, karena keberadaan dua web tersebut saya bisa berinteraksi dengan banyak pejalan dari berbagai negara yang saya host di kos. Suatu hari, saat makan bersama di Restoran Chinese Food favorit saya, Xavier, seorang pejalan perancis, dengan rambut brunette dan mata coklat, bertanya apa makanan yang saya pesan kurang enak. Saya sempat bingung dengan pertanyaan ters...

Bukittinggi - Lubang Jepang, Saksi Bisu Kerja Paksa

Image
Di balik Taman Panorama yang hangat, ramah dan indah, terdapat Lubang Jepang yang kelam, menyimpan kenangan memilukan kerja paksa, atau yang biasa disebut Romusha. Seketika memasuki Taman Panorama , kita akan langsung disambut Patung dua orang berseragam tentara jepang. Penunjuk mengarahkan langkah pada tangga yang mengular ke bawah, tak lama saya tiba di mulut gua, yang menjadi saksi sejarah pendudukan Jepang atas Bukittinggi ini. Kulit terasa dipeluk hawa dingin dan lembab seketika saya menuruni tangga menurun. Tekanan udara di dalam gua yang berbeda dengan di luar menjadikan angin sibuk hilir mudik menabrak pelancong yang mengunjungi gua ini. Cahaya redup lampu neon membimbing agar kaki tidak salah melangkah. Di ujung jalan menurun, saya menemui persimpangan yang mengarahkan pada ruangan-ruangan yang berbeda. Saya putuskan untuk mengambil jalan ke kiri terlebih dahulu. Pikiran mengawang, coba merekonstruksi kegiatan di sini. Lubang yang pengap, diisi oleh ratusan tawa...

Bukittinggi – Taman Panorama, Ruang Terbuka Hijau Kota

Image
Matahari mulai sedikit condong ke barat saat sepiring nasi kapau sudah ludes, tuntas dipindahkan ke dalam perut. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang sempit, saya langsung menuju jenjang yang merupakan jalan pintas dari Pasar Atas ke Kampung Cina. Melewati Pertigaan tempat Martabak Kaka, saya melangkah di jalan menanjak yang di kiri-kanannya disesaki penginapan. Setelah berjalan kurang lebih 500m, saya tiba di Panorama Park, harga tiketnya Rp.5000. Dari sini, kita bisa melihat pemandangan Ngarai Sianok yang legendaris. Sungai berkelok-kelok di antara perbukitan kapur, pepohonan hijau saling mengisi dengan tanah yang berwarna keemasan disiram cahaya mentari sore. Gunung Marapi jadi latar, menyempurnakan keagungan pemandangan alam yang ada.  Bila sedikit jeli, kita bisa menemukan tembok besar membelah lebatnya hutan di tepi ngarai. Masyarakatnya menyebutnya Great Wall, tidak salah, sekilas memang mirip tembok besar di China, dalam skala jauh lebih kecil tentunya. Sayang, say...

Perjalanan Untuk Belajar Memaafkan

Image
Seringkali, perjalanan kita tidak semulus yang diharapkan. Banyak kejadian yang di luar dugaan. Hal tersebut, kecil atau besar, menimbulkan kemarahan yang pada akhirnya mengganggu kenikmatan perjalanan. Tapi apa harus rela kebahagiaan itu diambil orang lain begitu saja? “True forgiveness is when you can say, "Thank you for that experience.”  ―  Oprah Winfrey   photo by: Dewi Pelita Banyak kejadian tidak menyenangkan yang mungkin menimpa kita selama perjalanan, bahkan mungkin saat akan memulainya. Teman yang tiba-tiba membatalkan janji, penjual makanan yang mematok harga setinggi langit, pengamen yang meminta uang dengan setengah memaksa, pengelola hotel yang memberi pelayanan buruk, dan lainnya. Paling menyakitkan, saat teman sepanjang perjalanan, berbeda pendapat dan memutuskan untuk berpisah di titik kita tidak ingin merasa sendirian. Kita mungkin marah, kecewa, dendam, memaki-maki keadaan. Muncul pertanyaan, apa tindakan kita memperbaiki keadaan? Haru...

Bukittinggi - Jam Gadang, Anak Kembar Nan Popular

Image
  Pada penghujung abad 19, Seorang bangsawan juga insinyur bernama Vortmann, mencurahkan daya dan karsanya untuk menciptakan dua anak kembar. Tak lama setelah mereka lahir, satu ia kirim ke London dan lainnya ia kirim jauh ke tempat antah berantah yang bernama Bukit Kubangan kabau. *** Tubuh saya bergidik kedinginan ketika kaki menjejak keluar dari mobil Xenia hitam yang mengangkut kami sejauh 91 km dari Kota Padang. Saya rapatkan jaket, padahal di atas, langit membiru cerah jadi latar awan putih yang asyik bergumul. Pantas saja, penanda menunjukan kota ini berada di ketinggian 941 mdpl. Walaupun cerah, suhu berkisar antara 16-23”C. Bukit Tinggi sebenarnya tidak menjadi tujuan saya dalam kunjungan ke Pulau Andalas ini. Selepas pendakian dari Gunung Kerinci, sementara masih banyak tersisa waktu, maka saya lanjutkan perjalanan ke sini. Selepas melintasi taman kota yang dihuni pepohonan rindang sambil menggendong carrier penuh noda tanah, saya tiba di landmark kota...

Mengingat Dua Perempuan

Image
Ibu terus memandangi foto 4R di tangannya, di situ terekam wajah kakak dan saya, menggunakan toga dan medali berwarna, wajah kami di foto itu halus lembut berbeda dengan realitas. Ibu bahagia, ia sukses mewujudkan mimpinya. Malam itu kami bertiga makan malam bersama. Kami menraktir ibu di kunjungan pertama kalinya ke Jogja ini selama anaknya studi. Dulu, ibu gagal dalam studi di sekolah menengah atas, bukan karena masalah biaya, tapi karena ia yang berasal dari desa kecil tidak betah hidup di ibu kota. Saudara-saudaranya bertahan, hampir semua tamat SMA dan beberapa lulus kuliah. Sedari kecil, ibu jarang memberi saya nasehat macam-macam, ia jarang memaksakan keinginannya. Ibu hanya selalu bilang "jangan jadi orang bodoh, karena itu menyakitkan" Saya tidak tahu cerita apa di balik nasehat yang membekas dalam di benak kami, kakak dan saya. Saya teringat kejadian empat belas tahun lalu, krisis moneter melanda perekonomian negeri ini. Dampaknya menghempas semua orang, ayah p...

Mempertanyakan Tinggal

Sekitar beberapa tahun lalu, saya pernah berpikir bahwa saya akan tinggal selamanya di Jogja. Memiliki banyak teman, mengisi waktu dengan jalan-jalan, aktualisasi diri dengan aktif di organisasi,  membuat hidup saya terasa sempurna walaupun dengan uang pas-pasan. Namun, sekarang saya mempertanyakan lagi pemikiran itu. Beberapa teman baik saya, cepat atau lambat, menemukan bahwa kota ini sangat nyaman tapi ada bagian dari diri mereka yang hilang. Saat saya tanya kenapa, mereka juga tidak memiliki jawaban. Hal itu membuat mereka hengkang sehabis usai studi, untuk menemukan hal yang hilang. Sekarang, saya masih tinggal di Jogja, memiliki pekerjaan yang saya suka. Tapi, akhirnya juga merasakan, ada sesuatu yang berjalan terlalu cepat meninggalkan saya, saat kaki ini masih asyik berjalan lambat. Saya juga tidak tahu itu apa, sama seperti teman-teman lainnya. Apa saya juga harus hengkang untuk menemukan lagi bagian hidup yang hilang?

Sore Terakhir di Ruang Ganti

Image
Langit makin membiru kelam, perlahan-lahan rintik air hujan menggenangi jalanan, refleksi lampu-lampu kota terlihat di jalan yang muram. Lelaki itu duduk di depan lokernya yang kosong. Ia memandangi tas carrier yang berisi semua hartanya selama tiga tahun, hartanya sederhana, hanya terdapat baju, buku dan sepatu. Ruang ganti tampak lengang, mungkin muram kehilangan seorang yang biasa memenuhinya dengan asap rokok dan wangi alcohol, serta nyanyian parau. Tadi siang ia sudah memutuskan untuk keluar dari tempat itu, bersama lima temannya. Entah kenapa, ia mulai meratapi keputusannya. Padahal selama tinggal di tempat itu, ia merasa tidak bahagia, ia ingin keluar secepat   mungkin, ingin melarikan diri segera. Carriernya padat berat, tapi bukan itu yang membuat langkahnya lambat. Kenangan-kenangan menjerat lekat, lidahnya tercekat dan pikirannya mampat. Ia memiliki kelekatan dengan tempat itu, di sana ia belajar dari menjadi penjahat sampai malaikat. Di sana ia memiliki sahabat...

Tokoh Utama di Balik Penciptaan Backpackidea

Image
Seorang teman berkomentar “akhirnya lulus  juga lu”, komentar itu berlanjut dengan pertanyaan “apa yang bisa buat lu skripsi lancar?”. Dengan lugas saya menjawab “backpackidea, yang membawa gw sampai sejauh ini”. Apa itu Backpackidea? Itu adalah proyek idealis dalam bentuk majalah elektronik yang membahas dunia traveling. Detailnya saya tulis nanti, majalah dari volume 00-08 bisa kamu unduh di sini . Sebentar, saya kira bukan Backpackidea yang bisa membuat saya berjalan sampai sejauh ini…… Kita mulai cerita, di tempat saya kuliah, Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma, menawarkan dua macam tugas akhir bagi mahasiswa yang ingin sesegera mungkin lolos: Penelitian bisnis dan Pengembangan bisnis. Penelitian bisnis lebih kita kenal dengan nama skripsi, mendengar namanya saja buluk kuduk sudah merinding, terbayang banyak kakak angkatan yang tidak lolos-lolos dari tahap ini selama bertahun-tahun. Merinding itu juga bukan tanpa alasan, walaupun berstatus sebagai ...

Isin – Penari Gong dari Miau Baru

Image
Isin, bersiap-siap menuju Lamin Adat, karena giliran menari sudah dekat. Gadis itu menari dengan rancak di antara penari lainnya, tiap gerak gemulai mengikuti irama dawai tradisional   yang dimainkan Pak Irang. Kelembutan dan ketegasan yang berpadu di setiap gestur terukur miliknya membius seluruh penonton di Sanggar Tari Lekan Maran. Sebagai penari inti ia menjadi motor bagi penari pengiring lainnya. Tarian hampir mencapai klimaks. Gong berdiameter lebih kurang setengah meter yang sedari awal dibawa seorang penari kini diletakan di tengah.   Penari yang seluruhnya berjumlah Sembilan orang itu membentuk formasi baru. Si gadis naik ke atas gong, dalam hitungan sunyi terarah delapan penari lainnya mengangkat gong sekaligus si penari. Si gadis tetap lanjut menari di atas gong, tanpa tersirat ketakutan. Kami saja yang menonton sempat khawatir. Irama dawai semakin kencang, si gadis dan penari pengiringnya menari semakin liar, seakan hilang kesadaran. Serentak seluruh ...