Posts

Showing posts with the label SBED

Isin – Penari Gong dari Miau Baru

Image
Isin, bersiap-siap menuju Lamin Adat, karena giliran menari sudah dekat. Gadis itu menari dengan rancak di antara penari lainnya, tiap gerak gemulai mengikuti irama dawai tradisional   yang dimainkan Pak Irang. Kelembutan dan ketegasan yang berpadu di setiap gestur terukur miliknya membius seluruh penonton di Sanggar Tari Lekan Maran. Sebagai penari inti ia menjadi motor bagi penari pengiring lainnya. Tarian hampir mencapai klimaks. Gong berdiameter lebih kurang setengah meter yang sedari awal dibawa seorang penari kini diletakan di tengah.   Penari yang seluruhnya berjumlah Sembilan orang itu membentuk formasi baru. Si gadis naik ke atas gong, dalam hitungan sunyi terarah delapan penari lainnya mengangkat gong sekaligus si penari. Si gadis tetap lanjut menari di atas gong, tanpa tersirat ketakutan. Kami saja yang menonton sempat khawatir. Irama dawai semakin kencang, si gadis dan penari pengiringnya menari semakin liar, seakan hilang kesadaran. Serentak seluruh ...

Mendekati si Anak Untuk Merebut Ibunya

Image
menemani anak-anak nongkrong di jamban mengapung. Satu hal yang saya percaya sebelum saya berangkat ke Kalimantan Timur adalah: Untuk mendorong perubahan sosial ekonomi di manapun, perempuan adalah yang pertama kali harus digerakan. Dari banyak tulisan yang saya pernah baca, perubahan social ekonomi di semua Negara dunia ketiga dimotori oleh perempuan. Namun yang menjadi pertanyaan susulan adalah “bagaimana saya mengambil hati perempuan di sana, sebelum bisa menggerakan mereka?”   Melalui obrolan panjang dengan salah satu rekan saya di Jogja, seorang aktivis di LSM Perempuan, saya menemukan jawaban,   pintu gerbangnya adalah melalui anak-anak mereka. mengajari anak-anak kelas 5 SD di Rumah Belajar. Jadi hal yang pertama saya lakukan setibanya di Kalimantan adalah berusaha mendekati anak-anak kecil. Mulai dari aktif mengisi kegiatan di rumah belajar, ikut mereka bermain di lapangan sampai ikut nongkrong saat mereka mandi di sungai. Setelah mereka cukup d...

Bulan, Gadis Kecil Miau

Image
#012 Bulan namanya, belum genap berumur 7 tahun tapi kecerdasannya sudah melebihi usia anak-anak yang berusia satu sampai dua tahun di atasnya. Pada suatu Minggu yang berawan, dia datang ke rumah. Bulan adalah keponakan dari mamak Wa, pemilik rumah yang saya tempati selama tiga bulan di Kalimantan Timur, yang menganggap saya dan seorang rekan lagi sebagai anak angkatnya, seperti kamipun yang selalu merasa mamak Wa adalah ibu kami. Sosok Bulan di awal pertemuan tidak banyak bicara, ia lebih sering mengamati aktifitas kami. Matanya selalu penuh antusiasme dan terkadang ia tidak segan bertanya. Namun, ia berubah menjadi gadis kecil yang lucu dan banyak bercerita saat merasa sudah dekat. Ia senang mengajari kami bahasa Dayak Kayan, mulai dari kosakata dasar seperti: makan, minum, mandi, pergi, tidur, gatal. Sampai nama-nama binatang yang kamipun tidak pernah menemukannya selama di Jawa. Ia selalu bersemangat menguji kecepatan mengingat dan ketepatan berucap semua kosakata baru...

Pengantar Dari Akhir Pencarian

Image
Sewaktu kami, 12 orang mahasiswa, memutuskan untuk mendaftarkan diri di Social Business and Development Programme 3, kami tidak terlalu tahu apa yang sebenarnya akan kami lakukan. Bayang-bayang Kalimantan di benak kami yang kebanyakan lahir dan besar di pulau Jawa tentu saja hanya pulau besar luas yang ditumbuhi hutan hujan basah maha lebat yang sampai cahaya matahari pun sulit masuk.  Menjelang seleksi dan wawancara kami masih juga ragu apa yang sebenarnya kami lakukan. Butuh keberanian besar untuk berkata mau dan mampu pergi jauh dari comfort zone selama ini, ke tempat yang tidak pernah terbayangkan dalam benak sebelumnya. Anak-anak di desa Deabeq yang tengah menghadiri upacara adat, terheran-heran melihat foto mereka yang diolah menggunakan aplikasi photoboot di Ipad 2.  anak-anak menjadi pintu utama kami untuk bisa diterima oleh masyarakat dayak di kampung ini.  foto oleh: Diooz Kaldera Suatu waktu kami bertanya pada seorang dosen “apa y...

Pisang Karamel dan Konsep Diri (catatan dari rumah belajar part.1)

Image
suasana rumah belajar saat anak-anak menulis biografi mereka Setiap kamis, saya   dan Wigit menawarkan tenaga untuk mengisi acara di Rumah Belajar. Selama ini kegiatan di rumah tersebut diisi oleh teman-teman dari Fakultas Pendidikan yang juga dikirim ke desa Miau Baru ini. Awalnya, kami pikir akan menyenangkan bisa mengajar mereka hal-hal baru sambil bermain. Sekaligus perkenalan untuk bisa menjalankan program nekad kami, yaitu Pengenalan Kewirausahaan Sejak Dini. Salah satu sub-program kami adalah praktek pengolahan makanan dari sumber daya yang tersedia di sekitar kampung. Maka kami akan mengajari mereka membuat pisang caramel. Bahan-bahan yang dibutuhkan sudah disiapkan sedari pagi. Dengan asumsi bahwa kami bisa memberdayakan semua anak dalam proses pembuatan. Sekitar jam 14.00 WITA kami sudah siap sedia di Rumah Belajar masih asyik bersendau gurau membicarakan kondisi rumah tempat teman-teman kami di tempat lain. Namun, saat anak-anak berbondong-bondong datang ...