Posts

Showing posts with the label dayak kayan

Isin – Penari Gong dari Miau Baru

Image
Isin, bersiap-siap menuju Lamin Adat, karena giliran menari sudah dekat. Gadis itu menari dengan rancak di antara penari lainnya, tiap gerak gemulai mengikuti irama dawai tradisional   yang dimainkan Pak Irang. Kelembutan dan ketegasan yang berpadu di setiap gestur terukur miliknya membius seluruh penonton di Sanggar Tari Lekan Maran. Sebagai penari inti ia menjadi motor bagi penari pengiring lainnya. Tarian hampir mencapai klimaks. Gong berdiameter lebih kurang setengah meter yang sedari awal dibawa seorang penari kini diletakan di tengah.   Penari yang seluruhnya berjumlah Sembilan orang itu membentuk formasi baru. Si gadis naik ke atas gong, dalam hitungan sunyi terarah delapan penari lainnya mengangkat gong sekaligus si penari. Si gadis tetap lanjut menari di atas gong, tanpa tersirat ketakutan. Kami saja yang menonton sempat khawatir. Irama dawai semakin kencang, si gadis dan penari pengiringnya menari semakin liar, seakan hilang kesadaran. Serentak seluruh ...

Bergaya Sebelum Pulang

Image
Sedari pagi mamak Wa sudah menyiapkan pakaian-pakaian adatnya, dia keluarkan dengan hati-hati semua pakaian itu dan diikuti dengan aksesoris-aksesoris yang melengkapinya. Mamak wa memperlakukan pakaian itu dengan sangat hati-hati. Bukan berarti pakaian-pakaian itu memiliki kekuatan khusus atau ditinggali mahluk halus. Hanya pakaian itu memiliki nilai historis dalam sejarah hidupnya. Dengan pakaian itu ia bisa menginjakan kaki dari mulai Malaysia, Jepang bahkan China. Semenjak pagi juga 10 rekan dari 5 desa (Dea Beaq, Bean Nehas Diaq Lay, Long Bau dan Muara Wahau) sudah bergegas menuju Miau Baru, desa kami, menempuh perjalanan sejauh 40-60 km dengan medan yang tidak ramah. Sesampainya di rumah kami, yang bermaterial kayu ulin kualitas utama, mereka langsung mempersiapkan diri. Kelompok lelaki langsung mencuci mukanya supaya debu-debu yang melekati wajah di sepanjang perjalanan bisa musnah. Kelompok perempuan yang sudah mencuri start untuk mandi, memadati kamar kami, memulas wa...

Nenek Mang -Menjadi Cantik itu Luka-

Image
Pada suatu siang yang murung, awan kelabu menggenangi matahari. Saya dan Wigit, partner saya, mengajak Vindy dan Harry,   yang tinggal di desa Wahau untuk berkeliling desa Miau Baru tempat saya tinggal. Beruntunglah mereka karena datang di waktu yang tepat, saat kami sedang nongkrong di warung depan Lamin Adat untuk menenggak es teh manis, nenek Mang juga sedang ngerumpi dengan pemilik warung. Siapa nenek Mang itu? Nenek Mang adalah salah satu perempuan sepuh yang tersisa di desa Miau Baru yang dulu kala ikut eksodus desa 7 tahun ke tempat ini. Dia masih bisa menceritakan bagaimana beratnya berjalan kaki menembus sungai, gunung, hutan dan cuaca buruk untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di tempat ini. Saat ini diperkirakan ia sudah berumur lebih dari 100 tahun. Nenek Mang adalah sedikit perempuan dayak Kayan yang   masih menyimpan kuat nilai budaya dalam tubuhnya. Kupingnya panjang dan tubuhnya penuh rajahan tattoo. Walaupun ia tidak bisa berbahasa Indones...

Pisang Karamel dan Konsep Diri (catatan dari rumah belajar part.1)

Image
suasana rumah belajar saat anak-anak menulis biografi mereka Setiap kamis, saya   dan Wigit menawarkan tenaga untuk mengisi acara di Rumah Belajar. Selama ini kegiatan di rumah tersebut diisi oleh teman-teman dari Fakultas Pendidikan yang juga dikirim ke desa Miau Baru ini. Awalnya, kami pikir akan menyenangkan bisa mengajar mereka hal-hal baru sambil bermain. Sekaligus perkenalan untuk bisa menjalankan program nekad kami, yaitu Pengenalan Kewirausahaan Sejak Dini. Salah satu sub-program kami adalah praktek pengolahan makanan dari sumber daya yang tersedia di sekitar kampung. Maka kami akan mengajari mereka membuat pisang caramel. Bahan-bahan yang dibutuhkan sudah disiapkan sedari pagi. Dengan asumsi bahwa kami bisa memberdayakan semua anak dalam proses pembuatan. Sekitar jam 14.00 WITA kami sudah siap sedia di Rumah Belajar masih asyik bersendau gurau membicarakan kondisi rumah tempat teman-teman kami di tempat lain. Namun, saat anak-anak berbondong-bondong datang ...