Dieng, ---perjalanan "yang penting pernah ke sana"----
REFLEKSI PAGI HARI Kubuka perlahan mataku. Di pagi yang tak kutahu cerah atau tidaknya. Tak ada kicau burung atau alunan lagu klasik seperi di film. Potongan-potongan perjalanan turun kemarin, sebuah mimpi buruk, Melintas berkali-kali dalam pikiran. Kucari handphone untuk memantau waktu. Ternyata dia mati lemas tak bertenaga. Di sekelilingku, manusia-manusia itu, teman-teman seperjalanan. Bergelimpangan seperti sapi-sapi kurban di penjagalan. Pulas sekali tidur mereka. Seakan berpesta dengan dirinya sendiri. Setelah menang atas keberanian untuk mati. Pendakian turun kemarin menimbulkan trauma tersendiri. Berjalan turun tanpa air tersisa. Melewati jalan-jalan yang tak bersahabat ditemani debu-debu yang memenuhi kerongkongan. 7 jam terus berjalan mendaki turun batu-batu terjal itu dengan penghliatan yang berkunang-kunang kelaparan. Terik matahari dan dinginnya kabut berganti-gantian menggoda kaki yang gemetaraan namun tetap dipaksa bekerja rodi. Kami berani untuk hidup maka sekarang kami...