Merekam Malam
#013 28 Januari 2013 Malam itu udara begitu panas,hujan yang batal seakan membuat bumi meradang, angin juga tak sesekali tampak untuk meredakan panas, kipas angin yang biasa diandalkan juga kini sudah tamat. Kamar itu panas melebihi biasa. Di dalamnya, lelaki itu duduk berhadap-hadapan dengan si perempuan, ada kesunyian berdiri di antara mereka, ada hawa dingin yang menyelimuti tubuh lelaki itu sampai-sampai ia tidak lagi bisa merasakan keringat yang mengucur deras membasahi mata, atau jangan-jangan itu adalah benar air mata? “sudah jam Sembilan, waktunya pulang” ungkap si perempuan. Lelaki itu mencoba bangun, menggenapkan seluruh daya untuk berdiri, namun rasa-rasanya gravitasipun tidak mengizinkan ia untuk beranjak pergi. Grativasi membantu hati kecilnya yang tidak pernah rela melepas, walaupun logika dan mulutnya selaras untuk menjadi ikhlas. Dengan segala upaya ia menguatkan kakinya, terlebih hatinya, untuk membantu si perempuan berkemas barang-barang yang...