Posts

Showing posts with the label a heart story

Merekam Malam

 #013 28 Januari 2013 Malam itu udara begitu panas,hujan yang batal seakan membuat bumi meradang, angin juga tak sesekali tampak untuk meredakan panas, kipas angin yang biasa diandalkan juga kini sudah tamat. Kamar itu panas melebihi biasa. Di dalamnya, lelaki itu duduk berhadap-hadapan dengan si perempuan, ada kesunyian berdiri di antara mereka, ada hawa dingin yang menyelimuti tubuh lelaki itu sampai-sampai ia tidak lagi bisa merasakan keringat yang mengucur deras membasahi mata, atau jangan-jangan itu adalah benar air mata? “sudah jam Sembilan,  waktunya pulang” ungkap si perempuan. Lelaki itu mencoba bangun, menggenapkan seluruh daya untuk berdiri, namun rasa-rasanya gravitasipun tidak mengizinkan ia untuk beranjak pergi. Grativasi membantu hati kecilnya yang tidak pernah rela melepas, walaupun logika dan mulutnya selaras untuk menjadi ikhlas. Dengan segala upaya ia menguatkan kakinya, terlebih hatinya, untuk membantu si perempuan berkemas barang-barang yang...

Untuk surat wasiat berjalan

Image
(Karena padanya ia titipkan semua rahasia terbesar dirinya, yang tahu semua endapan rasa bersalah di relung hatinya, yang tahu semua fosil perasaan tak sempat tersampaikan di hati kecilnya, yang tahu rahasia dan kebohongan kecil yang pernah ia lakukan dan semakin hari semakin besar rasa ingin ia beri tahu orang yang pernah menjadi korbannya.) Tempat itu tidak biasanya sepi, lelaki itu yang seringkali harus memesan tempat terlebih dahulu sebelum datang, kali ini bisa leluasa memilih tempat yang ada, mungkin karena lebaran sudah sangat dekat dan mahasiswa –mahasiswa di Yogyakarta sudah lama pulang ke kampong halaman, dan selalu seperti biasanya, ia memilih meja bundar di dekat jendela yang selalu basah karena air terus mengalir, membuat suasana sedikit terlihat basah, walaupun malam ini, malam-malam musim kemarau, tanpa angin, tapi udara dingin menembus daging, menyelusup jaket windproof yang sudah tidak tahan angin, yang ia pikir lebih dingin daripada AC di dalam café it...

memilih diam

Lelaki itu mengambil air panas yang baru saja mendidih, menaruhnya ke baskom, dan memasukan handuk kecil di dalamnya. Ia menghela nafas panjang, meredam kepedihan serta kemarahannya, mencoba untuk tetap tersenyum, mencoba untuk tetap hangat, selalu mencoba untuk tetap netral, dan terus mencoba diam. Perempuan disana tertidur pulas. Lelaki itu selalu suka melihatnya tertidur, sejak dulu, saat mereka pertama kenal, waktu perempuan itu masih penuh kehidupan, waktu ia masih begitu terpesona pada dunia. Ada kedamaian yang terpancar dari wajahnya saat terlelap. Ia peras handuk itu, sekarang sudah agak hangat airnya, karena ternyata cukup lama ia menghela-hela nafas untuk menenangkan jiwanya. Perlahan-lahan ia usapkan pada kening si perempuan , ia tepikan poni panjang itu, perlahan membelainya, walaupun tetap saja belaiannya kaku seperti biasa, memar itu masih baru, , walaupun hari lalu, minggu lalu, bulan lalu, disitu juga pernah membiru selalu. Si perempuan sesaat merintih, n...

Melawan kesakitan……

Image
24 april 2008 (Ditemukan terselip di textbook ekonomi mikro) Menunggu adalah seni bermain dengan prasangka dan ketidakpastian. Menunggu itu menyenangkan, sebenarnya. Karena kamu bisa menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya, tersesat dalam segala kemungkinan, mencoba keluar dari lubang-lubang keputus-asaan. Seperti hari ini,kemarin dan mungkin juga besok, lelaki itu menunggu. Dalam kehidupannya dimana waktu mengalir habis begitu deras. Ada sisi lain yang masih menunggu. Dia menunggu orang yang telah pergi meninggalkan celah kecil di hatinya. Terlalu kecil sampai ia tidak pernah menyadari kalau hatinya masih menunggu. Namun, saat keheningan yang mencekam datang, ia mengalami kesakitan yang amat sangat, karena celah itu sangat kecil namun terlalu dalam menembus daging. Pernah ia berusaha menambal celah itu, tapi seluruh syarafnya berontak dan segenap darahnya menggelegak. Sampai saat ini belum ada yang mampu mengisinya, kesakitan itu tetap ada. Dan sampai saat ini ia terus me...

air putih bukan anggur putih

Image
(Aku tak mau menjadi anggur putih kesukaannya, tapi aku mau jadi air putih yang melegakan saat dia benar-benar mabuk…..) malam ini aku menemaninya makan, memang bukan yang pertama kali tapi bukan berarti hal ini sering terjadi. Tadi sore dia mengirim pesan berisi ajakan untuk menikmati lagi jus yang kami nikmati malam kemarin. Seperti biasa, aku tak pernah bisa menolak ajakanya. Dan kali ini, aku di hadapannya memandangi mata besarnya yang hitam bening. Menatap mulut kecilnya mengunyah, Memperhatikan tangan kurusnya yang lincah memotong daging di atas pirng yang panas berasap. Menikmati gesture tubuhnya yang khas., memperhatikan senyumnya disertai ringannya dia bercerita tentang hari-harinya, mengawasi nafasnya yang lembut dan pelan Aku mengagumi dia lebih dari aku mengagumi perempuan lainnya. Dan aku masih mencari jawaban kenapa? Cukup lama aku tak bertemu, namun minggu-minggu ini aku akan sering bersamanya. Dia semakin kurus, aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi yang aku tahu ...

90cm saja---Sebuah catatan seorang incidental stalker---

Image
(lelaki itu terdiam, kakinya kaku tak mampu bergerak, jantungnya berdegup kencang tak terkendali, sudah sedari 90 menit yang lalu seperti itu. Dan buku yang ia baca, sambil berdiri, tak sekalipun berganti halaman.) Setiap jumat sore, lelaki itu lewatkan hari di toko buku terbesar di yogyakarta. Bukan karena ia mampu untuk selalu belanja buku tiap minggu, tapi karena ketidakmampuannya itu ia selalu ke tempat itu. Memuaskan hasrat membaca buku-buku baru, menyobek segel pengaman, dan dengan tanpa dosa membaca hingga larut dan toko mendekati tutup, melipat halaman saat ingin disambung lagi minggu depan, sampai mungkin buku itu tak laku lagi dijual. Saat ia membaca, dunianya adalah dunia dalam buku itu, ia terjun bebas berputar bersama karakter-karakter di dalamnya, berlarian dalam landscape yang indah dalam pikirannya, menjadi orang jahat juga baik, menjadi awal juga akhir, ya, ia menciptakan dunianya sendiri di atas buku-buku itu. Hari-hari belakangan ini jogja sedang memasuki musim-...

an usual time in unusual memories

Image
apa yang sudah hilang relakan saja menghilang, bukannya kehidupan menyediakan pengganti yang lebih dari cukup... Langit mulai biru pekat, bergradasi dari ungu muda di ujung horizon, awan-awan semakin tebal walaupun tidak hujan, adzan juga sudah mendekati episode terakhir, dan dari ketinggian tebing perbukitan wonosari, terlihat ribuan lampu-lampu di seluruh jogja mulai menyala, berkelap-kelip di awal sampai stabil berpijar di akhir, mobil-mobil terlihat seperti lampu natal, berjejer teratur penuh warna bergerak memutari perbukitan. Angin bergerak dari lembah menyelimuti tubuh agar jauh dari hangat, inilah bukit bintang, yang terkenal karena view langsungnya yang indah, yah indah, keindahan yang baru lelaki itu ketahui, baru lelaki itu sadari, baru lelaki itu amini. Segelas kopi hangat di sebelahnya sudah setengah kosong, dan pasti gelas itu bukan yang terakhir, karena ia memutuskan untuk menghabiskan malam disitu, hanya untuk mencoba menyadari keindahan yang harusnya lebih indah bila...

tersembunyinya keterbukaan

Ponsel itu berdering, dan lelaki itu mendiamkannya. Ponsel itu terus berdering lagi dan lagi. Lelaki itu mulai gelisah karena dia sangat lelah, lelah berpura-pura setiap dia mengangkat ponselnya. Dia aktifkan mode sunyi tapi nyala ponsel itu tetap berpendar-pendar dan bergetar. Dia menghindari ponsel itu tapi tak berani mematikannya. Karena bila lelaki tersebut melakukannya penelepon disana akan tahu kalau lelaki itu tidak mau bicara. Dan tak ada alasan buat mengelak. Penelepon itu perempuan yang haus akan kabarnya, gelisah karena lelakinya mendadak sunyi, merasa terancam karena belahan hatinya dingin perlahan, kebingungan karena kucuran perhatian yang tiba-tiba mongering, tahu ada bagian kosong di hati lelakinya yang tak bisa dia isi, mengerti tapi pura-pura tak tahu. Pernah suatu kali si penelepon datang tiba-tiba ke kota lelaki itu yang sederhana di tengah jawa. 400 km dilewati hanya untuk mewujudkan imagi-imaginya akan lelaki itu. Lelaki itu panic, di telepon dia bisa berpura-pura ...

mari kita membicarakan perempuan ideal........

waduhh.... gw mw curhat nee, semua harap tenang. eehh... bukan curhat koq, cuma sdikit kriteria wajib klo mau jadi cewek gw.. (bermimpi klo ce byk yg ngantri di depan kostan). gak..gak.... ini cuma iseng-iseng nulis juga buat ngejawab pertanyaan temen-temen gw yang nanya kenapa sampai hari ini gw masi freelance ( bener ga see istilahnya) alias jomblo. dan kenapa gw selalu jawab klo gw sedang mencari...... hehhehhehhehhee lalu kembali ke point utama....... seperti apa cewek yang gw cari..... satu............ ..........tahan banting....... jadi klo dibanting-banting, tulangnya ga patah..... hohohoho... bukan ntu koq.. gw pengen ce yang kayak riani djangkaru.. bisa diajak jalan kemana ja n emang nikmatin juga.. bisa nemenin gw dalam setiap petualangan-petualangan gw. bisa diajak naek gunung, arung jeram, susur gua, backpacking, jalan-jalan ga jelas.. bisa diajak panas-panasan,ujan-ujanan. kan seru ntu.... bukan ce yang klo diajak jalan kaki dikit ja dah ngeluh cape.. kakinya takut kek pem...

Reka ulang berita kehilangan

Image
Lelaki itu duduk di beranda depan kamarnya. Memandang langit dalam diam. Satu titik air menimpa pipinya, titik air yang kedua menyusul, lalu ketiga dan keempat saling mendahului, kelima dan keenam berkejar-kejaran lalu jatuh juga menyusul puluhan juta titik air yang membasahi tanah-tanah kering itu. Dia tersenyum, akhirnya Tuhan memberikan hujan itu ke tanah yang dia anggap terkutuk, bagaimana tidak sudah hampir sepertiga tahun tanah itu dibiarkan terpanggang.padahal orang-orang menyebutnya kota hujan. Fatamorgana rajin hadir di tanah-tanah gersang itu. Dia merindukan hujan, seperti dia menginginkan orang itu yang tidak akan pernah datang lagi. Tapi sore ini dia sedikit bahagia, setiap hujan datang ada sedikit ingatan yang terbawa. Dan harapnya hujan ini bertahan lama, biar ingatan-ingatan itu bisa terkorek lebih dalam, sedalam harapan yang dulu tersamar oleh egoismenya. Tapi hujan itu berhenti cepat, panas kembali mengambil bagiannya di tanah ini. Lelaki itu kecewa karena imagi h...

damai besertanya

Image
Setiap orang menyerukan perdamaian, entah di Koran-koran atau di televisi saat hari raya atau hari biasa.Dan lelaki itu hampir jenuh mendengarnya, buatnya kata itu sudah tak memilki makna karena setiap orang menyerukannya tapi tak pernah hal itu benar-benar terwujud. Perang tetap ada, konflik pun masih berlanjut.Dan memang kata itu baginya, hanya sekedar utopia. Tapi tidak kali ini, akhirnya dia merasakan perdamaian, dan itu indah.ia akhirnya berhasil berdamai dengan dirinya sendiri serta masa lalunya. Setelah sekian lama benteng egoismenya berdiri tegak kokoh akhirnya runtuh juga oleh tetes-tetes kegelisahan dan rembesan perasaan bersalah. Malam itu, saat ia jenuh menyusuri situs jejaring social yang beberapa bulan lagi memungut bayaran untuk bisa diakses. Di kolom chat muncul Si perempuan, manusia tanpa kesalahan yang telah lama ia tinggalkan tanpa segenggampun kepastian. Kegelisahan-kegelisahan yang telah lama ia pendam dalam di dasar alam bawah sadarnya menyeruak kelu...