Mengingat Dua Perempuan
Ibu terus memandangi foto 4R di tangannya, di situ terekam wajah kakak dan saya, menggunakan toga dan medali berwarna, wajah kami di foto itu halus lembut berbeda dengan realitas. Ibu bahagia, ia sukses mewujudkan mimpinya. Malam itu kami bertiga makan malam bersama. Kami menraktir ibu di kunjungan pertama kalinya ke Jogja ini selama anaknya studi. Dulu, ibu gagal dalam studi di sekolah menengah atas, bukan karena masalah biaya, tapi karena ia yang berasal dari desa kecil tidak betah hidup di ibu kota. Saudara-saudaranya bertahan, hampir semua tamat SMA dan beberapa lulus kuliah. Sedari kecil, ibu jarang memberi saya nasehat macam-macam, ia jarang memaksakan keinginannya. Ibu hanya selalu bilang "jangan jadi orang bodoh, karena itu menyakitkan" Saya tidak tahu cerita apa di balik nasehat yang membekas dalam di benak kami, kakak dan saya. Saya teringat kejadian empat belas tahun lalu, krisis moneter melanda perekonomian negeri ini. Dampaknya menghempas semua orang, ayah p...